Monday, February 3, 2020

February 03, 2020

Mengapa harus ada masalah?



Kemarin aku berdiskusi sama adik aku, dia menanyakan sesuatu yang menurut aku jawabannya nggak ada yang pasti. Dia nanya "kenapa orang beriman sering dapat masalah padahal dia kan dekat sama Tuhan, dan kenapa justru orang yang nggak deket sama Tuhan justru jarang dapat masalah hidupnya?" 

Setiap manusia pasti punya beban masalah masing-masing. Ada yang berhadapan dengan masalah keuangan, keluarga, pertemanan, bisnis. Akupun juga nggak tau jawaban pasti karena Tuhan punya rencana berbeda untuk setiap masing-masing dari kita.

Tapi jika kita lihat dari sisi kacamata Tuhan, ada 2 poin penting kenapa anak Tuhan harus ditempa:

1. PENGENALAN AKAN TUHAN

Amsal 9:10
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Mazmur 111:10
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Nggak ada yang jauh lebih penting dalam hidup daripada pengenalan akan diri Tuhan sendiri. Tuhan akan memakai masalah dalam hidup kita supaya manusia bisa bergantung sepenuhnya kepada kasih karunia Tuhan. Tuhan akan memakai masalah dalam keluarga, kerjaan, keuangan supaya manusia bisa benar-benar melepaskan kekuatan dirinya dan mengandalkan Tuhan seutuhnya. 

2 Korintus 12:9 
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Dia mau setiap aspek dalam hidup kita adalah untuk Dia, oleh Dia dan dari Dia  

Roma 11:36 
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! 

 Melalui masalah Tuhan akan menyingkapkan Diri-Nya, terkadang Tuhan bekerja dalam diam berupa penyelesaian masalah yang dapat diselesaikan melalui kelemahan-kelemahan kita yang membuat orang akan berfikir "itu nggak mungkin terjadi kalau bukan Tuhan yang melakukan". Disitu kita dan orang lain akan lebih mengenal dan menyatakan kekuatan, kedaulatan, dan kekuasaan mutlak Tuhan dalam hidup kita. Dan kesaksian hidup kita Tuhan pakai untuk menarik domba-domba yang lain agar dapat mengenal Dia terutama penghiburan bagi orang-orang yang dalam pencobaan yang sama.

Pernyataan ini mungkin sering kita dengar bahwa cobaan manusia untuk jauh dari Tuhan itu bukan masalah atau ketika kita ada di titik terendah, melainkan harta, tahta, dan uang. Tapi ketika manusia ada berada di titik terbawah, kita akan tau siapa yang pertama stick with us yaitu Tuhan sendiri :

Mazmur 34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

2. KITA DIBENTUK UNTUK LEBIH SERUPA DENGAN DIA 

Ketika kita mulai mengetahui dan mengenal Tuhan, Tuhan nggak mau kita berhenti sampai disitu. Dia juga mau kita memiliki karakter dan sifat sama seperti Tuhan. Karakter tangguh seperti Tuhan dan memiliki kasih sempurna seperti Tuhan harus melewati banyak pencobaan. Karena kasih sejati adalah ketika kita mempunya pilihan untuk pergi tapi kita memilih untuk tetap tinggal.

”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2-3) 

Mereka yang telah dipilih oleh Allah, telah juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. (Roma 8:29)

Mungkin dunia butuh orang-orang pinter. Tapi menurut aku kepintaran atau hikmat bisa Tuhan berikan dengan mudah, tapi di dunia yang messed up ini butuh lebih banyak karakter Yesus. Dunia butuh lebih banyak pendamai seperti Tuhan Yesus. Untuk mempersiapkan "Yesus-Yesus" yang lain, Tuhan perlu menempa orang itu agar kasih orang itu teruji. 


Dan akhir kata yang mungkin lebih membedakan orang beriman atau nggak adalah 

Amsal 11:28 Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.

Seberat apapun masalah anak Tuhan, ketika akar kita kuat di dalam Tuhan, kita bisa melewati semua itu bersama Tuhan.