Cinta Diri atau Penyangkalan Diri ?
Mungkin how to cope with insecurity banyak dicari anak-anak remaja, termasuk juga aku (dulu). Nggak jarang aku melihat banyak influencers yang memiliki banyak followers di Instagram mengkampanyekan untuk anak-anak muda lebih "mencintai diri", "bahagia kita tanggung jawab kita", "kita berhak bahagia", "tubuh/ hidup kita otoritas kita". Namun menurut aku pusat pada diri sendiri adalah justru awal dari kehancuran diri.
Mungkin beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan adalah :
1. Apakah sifat asli manusia baik ?
2. Apakah kita LAYAK dihormati & dicintai?
******************
Aku ingin manusia paham akan kodrat asli dirinya. Alkitab jelas menjelaskan bahwa sifat asli kedagingan manusia adalah jahat & sejak manusia lahirpun sudah membawa dosa :
(Kejadian 6:5) .... bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata
(Kejadian 8:21) "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya"
(Roma 3 :10-11) seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
(Roma 7:18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.
Aku pernah diberitahu oleh temanku yang mungkin sangat tepat bahwasannya manusia di sekolah tidak pernah diajarkan untuk membenci ataupun berbohong tapi manusia MAMPU secara alami untuk membenci & berbohong. Dalam naluri manusia kita sudah jahat penuh dengan keegoisan, kesombangan, iri hati, jika seperti itu bagaimana mungkin manusia dapat dengan tulus mencari Allah? dan jika kebenarannya seperti itu bagaimana mungkin bahwa Self-Love dengan mencitai diri adalah jawaban yang "benar" untuk mencari sumber sukacita? Itu adalah awal dari kerusakan untuk mencintai diri sendiri.
Terlebih yang membuat aku miris bahwa banyak influencers mengkampanyekan hidup sesuka kita "tanpa otoritas" agar kita bisa bahagia dengan standard kita tanpa memperdulikan otoritas Tuhan.
Manusia harus paham bahwa setelah dosa masuk konsekuensi kita adalah kita terpisah dengan Kekudusan & Hadirat Allah. Kita sebagai pihak yang bersalah tidak mempunyai kelayakan & kemampuan untuk "merangkul" Allah sebagai pihak Yang Benar. Sehingga rekonsiliasi antara manusia berdosa dengan Allah yang Kudus hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri yang harus butuh penumpahan korban darah Kristus untuk membenarkan pendosa. Jika kita melihat Alkitab dari Kejadian - Wahyu, dan bagaimana korban sembelihan dibutuhkan untuk penghapusan dosa, Kristus adalah penggenapan dari Domba Allah yang mendamaikan dosa dunia.
Dari awal Adam jatuh ke dalam dosa yang mempunyai inisiatif untuk datang & mencari adalah dari pihak Tuhan sebagai pihak yang Benar bukan Adam sebagai pihak yang salah (Kejadian 3:9)"Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: 'Di manakah engkau?'". Terlebih ketika bangsa Israel dijajah oleh Mesir yang mempunyai inisiatif agar manusia bisa beribadah adalah Tuhan bukan manusia yang berinisiatif untuk beribadah kepada Tuhan (Keluaran 10:3) Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka beribadah kepada-Ku.
******************
Jika seperti itu, apakah dasarnya manusia merasa diri layak untuk dihargai? ataupun dihormati?
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:21)
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 2:8-9)
Jika IMAN saja PEMBERIAN apa yang bisa dibanggakan dari manusia?
Oleh sebab itu sebagai orang yang dibenarkan menurut aku kita harus terus melihat kepada Kristus dan tinggal di dalam Kristus karena kita adalah orang berhutang dosa.
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)
Pada dasarnya MANUSIA LAYAK UNTUK DIHUKUM & MENDAPAT MURKA TUHAN.
Kita harus hidup dalam Otoritas Tuhan, karena jika berpegang pada otoritas manusia kita tidak akan punya standard yang akan melahirkan banyak kekacauan.
Aku sempat ditanya oleh orang, kalau kita punya kehendak bebas namun harus hidup "kudus" dalam otoritas Tuhan berarti kita akan seperti robot? Tidak boleh salah? Tidak memiliki kehendak bebas?
Namun aku harus sampaikan, ketika Roh Tuhan yang ada di dalam diri manusia, Roh Tuhan sendirilah yang menyenangkan Tuhan dan yang MAMPU melakukan kehendak Tuhan. Roh itu lah yang mampu memisahkan diri dari hal yang TIDAK DISUKAI TUHAN.
(Filipi 1:6) (BIS) Allah sendiri yang memulai pekerjaan yang baik itu padamu, dan saya yakin Ia akan meneruskan pekerjaan itu sampai selesai pada Hari Kristus Yesus datang kembali.
(1 Korintus 15:10) (AVB) Tetapi dengan kasih kurnia Allah, aku telah menjadi seperti diriku sekarang. Kasih kurnia-Nya yang telah dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia, kerana aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; sesungguhnya bukan aku yang melakukannya, tetapi kasih kurnia Allah yang bersamaku.
Sehingga yang mampu melakukan kehendak Tuhan adalah ROH TUHAN SENDIRI BUKAN KEDAGINGAN MANUSIA. Itulah pentingnya lahir Baru dalam ROH
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3)
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. (Yohanes 4:24)
Ketika manusia mengalami perjumpaan dengan Tuhan, manusia akan merasakan bahwa kedagingan dapat disalib namun dapat berjalan berdampingan dengan kehendak bebas.
Kita nggak akan melihat hal baik jika hanya berfokus pada diri sendiri. Cara yang tepat adalah melihat pada Pribadi Kristus. Melihat SALIB KRISTUS & BERPEGANG PADA KASIH KARUNIA KRISTUS.
Dalam beberapa pandangan mungkin self-love lebih kepada penerimaan diri, menghargai diri, yang berpusat pada diri dan "kebahagiaan diri" di atas segalanya. Namun sejatinya manusia akan menemukan dirinya & mempunya sukacita ketika dia MENYANGKAL DIRI.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10:38)
Lalu
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut
Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
(Matius 16:24)
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa
yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi
barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan
menyelamatkannya. (Markus 8:34-35)
Mungkin itu refleksi dari aku. Ketika kita berpusat pada diri sendiri yaitu bahwa kita layak dihormati, layak dihargai hal itu justru membuat kita akan semakin sulit mengasihi sesama jika suatu saat kita tidak dihargai manusia. Namun ketika melihat pada KEBENARAN SEJATI: Siapa diri kita, siapa DIA, itu akan menimbulkan kerendahan hati yang TIDAK MENUNTUT untuk dipenuhi.
Sebagaimana TUHAN pemilik segalanya SUDAH MERENDAHKAN DIRINYA, uintuk itulah kita DIPANGGIL untuk MENGASIHI SESAMA LEBIH DARI DIRI KITA.
Karena TUHAN SUDAH MENGASIHI KITA PERTAMA KALI DI DALAM KETIDAKLAYAKAN KITA sudah sepatutnya kita menyangkali diri & memberikan diri kita seutuhnya untuk TUHAN pakai, dan menurut aku pelayanan manusia untuk Tuhan adalah sebuah hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Itu adalah sebuah kehormatan istimewa & amanat agung ketika Tuhan berkenan memakai diri kita untuk kemuliaan namaNya.
Kiranya damai sejahtera Tuhan Yesus yang melampaui segala akal memenuhi pikiran dan hati kita. Tuhan Yesus memberkati.
