Theresia Melinda
January 14, 2021
Lembaran Baru Pasangan Hidup (+ Resolusi 2021)
2020 tahun yang cukup membawa banyak perubahan buat hidup aku, dari iman hingga hubungan aku yang merubah segala rencana ku sejak 2 tahun lalu.
Aku dan mantan aku sudah berpacaran sejak Mei 2013 dari usiaku 18 tahun. Kami berpacaran 7 tahun hingga memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius untuk menikah di tahun 2021, dan lamaran Desember 2020. Kami bertemu di Gereja Albertus Harapan Indah (Gereja kami) pada saat hari ulang tahun aku yang ke 18. Kami sama-sama beragama Katolik, dan mantan aku adalah seorang Katolik yang taat, takut akan Tuhan
Bulan Maret 2020 kemarin dimana tepatnya corona masuk Indonesia, dan April 2020 sudah tidak diizinkan Gereja on-site, maka itulah titik awal perjalanan iman aku.
Namun ternyata titik awal pengenalanku akan Tuhan membawa perubahan pada masa depan aku. Rencana pernikahan yang di depan mata terpaksa harus dibatalkan karena aku dan mantan aku tidak punya titik temu terkait hal iman. Mantan aku & keluarganya mengharapkan pasangan yang seagama sedangkan posisi aku saat ini dan apa yang aku percayai aku harus pindah Gereja dan itu menimbulkan perdebatan & pertentangan yang cukup panjang pada saat itu terlebih tekanan dari pihak keluarga aku sendiri yang tau bahwa keputusan ini akan mengecewakan banyak pihak yang sudah melibatkan antar keluarga.
Aku pun udah berusaha untuk mempertahankan dan menerima jikalaupun berjodoh aku bersedia buat Pemberkatan di Gereja Katolik hanya saja aku akan tetap kekeh untuk pindah Gereja namun hal itu pun tidak diterima sehingga kami memutuskan untuk menyudahi hubungan kami pada akhir bulan Oktober 2020, tepat 2 bulan sebelum kami lamaran.
Untuk move on tentunya tidak mudah. Perjalanan 7 tahun suka duka, susah senang sudah dilalui bersama. Terlebih dari itu sayang dan ketulusan mantan aku yang selalu membuat aku sulit untuk melangkah kawatir sulit menemukan yang lebih baik ataupun minimal sama dengan ketulusan dia buat aku.
2013 - 2020 aku cukup bahagia dikeliling orang yang selalu ada buat aku terutama mantan aku yang selalu bisa jadi temen dan menyeimbangkan bagaimana moody nya aku, kerasnya aku, aku akuipun kesabaran dia selama ini mengambil peran dalam merubah sifat aku yang keras, sehingga aku selalu berfikir baiknya Tuhan sama aku untuk mengirimkan mantan aku sebagai penolong aku, sampai suatu titik ketika dia harus pergi aku terkadang merasa menyalahkan Tuhan.
Disitulah Tuhan menyadarkan aku bahwa yang membuat aku secure selama ini adalah Tuhan Yesus + Faktor X + Faktor X. Tuhan juga mengingatkan aku perumpamaan Anak Sulung bahwa aku belum melihat Dia sebagai satu-satunya harta di hidup aku. Aku masih fokus dan mengharapkan berkat-berkatNya.
Disitu juga aku belajar bahwa aku nggak pernah kehilangan apa-apa, segala cinta yang pernah aku alami pun adalah anugrah Tuhan semata-mata dan karena Tuhan berbelas kasih sama aku.
Dan ternyata hal ini membawa pelajaran bagi aku terutama dalam pasangan hidup. Secara nggak langsung mantan aku udah membuat aku menjadi orang yang "bergantung" pada manusia, pengorbanan dia yang besar justru membuat aku menjadi tidak dewasa yang selalu harus di-back up dan dimengerti, padahal pada dasarnya pernikahan adalah bukan bagaimana pasangan kita melengkapi kekurangan kita sehingga kita menjadi utuh, ataupun menjadi alasan sumber bahagia, namun justru kita harus UTUH & PUAS terlebih dahulu di dalam Tuhan. Bagaimana pasangan aku selalu melayani aku membuat aku jadi wanita yang ada di zona nyaman & tidak dewasa yang selalu ingin dilayani terus menerus. Dan hal itu malah membuat ketimpangan bahwa aku justru jarang berkorban dan melayani dia.
Untuk 2021 ini resolusi aku kedepan hanya untuk dewasa & puas di dalam Tuhan. Dan beberapa hal terkait pasangan terutama dalam masa penantian ini Tuhan mengingatkan aku beberapa hal :
1. SIAPKAN HATIMU
Hikmat dunia selalu bilang bahwa it's okay untuk mencari pelampiasan ke orang baru. Tapi apa yang dikatakan Alkitab ?
”Beginilah firman TUHAN : ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara. (Yeremia 17:5-6)
Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap? (Yesaya 2:22)
Dalam masa penantian ini Tuhan nggak mau aku hidup hanya untuk fokus mencari pasangan hidup, karena panggilan kita di dunia adalah untuk memuliakan dan menjadi serupa dengan Dia.
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Pada masa penantian ini Tuhan mau menyiapkan hati ku untuk TIDAK BERGANTUNG pada berkatNya. Tuhan mau menyiapkan hatiku untuk FOKUS & PUAS hanya di dalam Dia.
Bagaimana tau bahwa kita sudah puas di dalam Tuhan ? Bahwa kita mempunyai semangat untuk melakukan kehendakNya ada atau tidak ada pasangan. No boyfriend no worries 😝 . Kita punya sukacita dan tidak mengharapkan orang lain untuk melengkapi kita karena kita sudah UTUH & SUKACITA di dalam Tuhan. Karena sejatinya pasangan adalah tambahan dari Tuhan, hadiah dari Tuhan untuk manusia.
Jika kita melihat kisah pencipataan sejaka dunia dijadikan, sejak semula pernikahan dirancangkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan justru memberikan Hawa atas inisiatifnya sendiri ketika Adam sedang tertidur, bukan karena permohonan, keinginan atau bahkan inisiatif Adam :
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:18)
Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kejadian 2:21-24)
Pernikahan dirancangkan OLEH TUHAN, UNTUK TUHAN & BAGI TUHAN.
Oleh sebab itu sangatlah SALAH BESAR hikmat yang mengatakan bahwa pasangan kita yang bertanggung jawab atas keutuhan & menjadi sumber kebahagiaan kita.
Jadilah UTUH & PUAS di dalam TUHAN dahulu karena sejatinya dalam pernikahan kamu harus siap membagikan bahagia bukan sebaliknya.
Coba cek hatimu, apakah kami masih memiliki luka batin? atau hasrat untuk "ingin diisi" atau "ingin diperhatikan" oleh seseorang ? Hal itu menandakan bahwa hati kita belum full oleh Tuhan karena pasanganmu bukanlah orang yang seharusnya bertanggungjawab atas luka batin masa lalumu atau hasratmu yang ingin diperhatikan. Namun itu adalah tugas Tuhan yang mampu mengisi hatimu dan menyembuhkan lukamu.
Tuhan Yesus mengasihimu :) itu adalah landasan kokoh untuk mau mampu mengasihi pasanganmu sebagaimana Tuhan mengasihimu pertama kali.
Kita + KRISTUS = PasanganBUKANKita + Pasangan = KRISTUS
Dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. (Lukas 1:47)
Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. (Yesaya 26:3)
Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. (Yesaya 32:17)
Kamu yang masih single ambilah waktu sesering mungkin untuk berdoa agar Tuhan mempersiapkan hatimu hanya bisa fokus kepada Dia & utuh di dalam Tuhan, bukan berdoa agar pasanganmu dapat memenuhi mu.
2. BE CHRISTLIKE
Okey dan apa yang ada dalam pikiran ku setelah aku membaca beberapa Artikel bahwa setelah hati kita siap hanya bersukacita di dalam Tuhan adalah Tuhan akan mempersiapkan karakter kita untuk semakin serupa dengan Dia.
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:18)
Tentu hubungan yang baik adalah pasangan yang SAMA-SAMA SIAP (TEPAT), bukan hanya salah satu belah pihak saja yang SIAP.
Tuhan mempersiapkan karakter kita untuk semakin serupa dengan Dia sebelum kita bertemu dengan orang yang juga sedang dipersiapkan untuk kita. Ketika kita sama-sama SIAP, sudah sama-sama memiliki sifat kristus maka disitulah WAKTU YANG TEPAT.
Pastikan pasanganmu bukan hanya ber-KTP Kristen tapi ia juga adalah yang menghidupi KRISTUS.
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6:14).
Dalam masa penantian ini Tuhan mau karakter aku lebih diubahkan lagi untuk seperti Dia lewat segala apa yang Tuhan tanggung jawabkan sama aku saat ini dari aspek pekerjaan, kehidupan di rumah dan apapun yang saat ini Tuhan berikan dan menghasilkan buah Roh Kudus :
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)
Bayangin kalau pasangan kamu tidak seimbang dalam hal kerohanian, kedewasaan atau pemikiran pasti akan berat sebelah. Ingat pernikahan Kristen adalah pernikahan sekali seumur hidup, choose wisely whom you will spend the rest of your life with.
3. MINTA BIMBINGAN TUHAN
Dan yang terakhir adalah mintalah bimbingan dari Tuhan agar setiap pilihan kita SESUAI dengan kehendakNya. Manusia memang punya kehendak bebas untuk memilih, tapi apapun yang kita pilih pastikan itu sudah sesuai dengan Firman Tuhan.
Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. (Mazmur 37:3-4)
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8)
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29 : 11)
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5-6)
”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." (Matius 22:37)
Apa yang dituntut oleh Tuhan adalah percaya dengan segenap hati, jiwa & akal budi kita. Ia menginginkan keseluruhan dari diri kita hati & perasaan kita untuk bersandar pada Tuhan. Pernikahan bukanlah hanya status atau perlombaan. Jadi jangan tergesa-gesa. Mintalah bimbingan dari Tuhan untuk setiap jalan yang sedang kita alami.
Menikahlah DISAAT SIAP. Karena sejatinya Pernikahan adalah tentang BELAJAR MELAYANI & BERBAGI sukacita, bukan sebaliknya. Pastikan kalian adalah pasangan yang SUDAH sama-sama UTUH di dalam TUHAN. Jadi nggak ada lagi penuntutan untuk "minta" dibahagiakan, agar bisa saling sama-sama melayani TUHAN secara UTUH dalam pernikahan. Kalau dalam diri kita masih hanya ingin DILAYANI, DIPENUHI oleh SESEORANG bisa dipastikan kita BELUM SIAP MENIKAH.
Oh iya satu lagi. Mungkin terasa sulit untuk percaya pada saat kita sama sekali belum bisa melihat "clue" atau tanda, seolah berjalan tanpa tau arah apalagi pada saat pandemi seperti ini mungkin berfikir kita belum punya komunitas, terisolasi, bagaimana bisa bertemu jodoh kita? Tapi ingatlah selalu bahwa segala sesuatu terjadi atas KEHENDAK TUHAN bahwa Tuhan BERDAULAT untuk apapun yang terjadi di bawa kolong langit. Tuhan MAMPU membuka jalan untuk menghancurkan akar dosa manusia yang sama sekali tidak ada jalan lagi untuk manusia bersatu sama Tuhan, apalagi permasalahan ekonomi ataupun jodoh.
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. (Matius 10:29-31)
Jika burung pipit yang nggak punya akal budi berharga untuk Tuhan, apalagi kisah hidupmu, kisah hidupmu adalah bagian dari KisahNya dan berharga bagi Tuhan, dan apapun yang terjadi saat ini He is in control.
Oke sekian dulu refleksi saya akhir-akhir ini. Kiranya bisa menjadi berkat.
Tuhan Memberkati!
Inspired : https://corelya.wordpress.com/2016/06/16/pacaran-kristen-part-2/



