Ilah-Ilah lain.
Minggu ini aku cukup tertampar dengan beberapa kotbah dari Gibeon Church tentang Hikmat Amsal. Salah satunya adalah iri hati & kesombongan.
Beberapa orang yang mengenal ku mungkin akan berfikir bahwa aku terlalu rohani, sering berbicara tentang Alkitab di status ataupun memahami Alkitab dengan baik. Namun ketika aku selidiki hati aku, banyak dari hati & pikiran aku yang justru sumber dari segala dosa. Hikmat Amsal kemarin tentang iri hati bener-bener menegur hati aku, bahwa I feel that Christ isn't enough. I long for someone's life. I'm envious. Di saat yang lain di umur segini sudah menapaki beberapa jenjang dari kesuksesan di pekerjaan ataupun rumah tangga, meanwhile I'm none of them. Sometimes I'm feeling stuck both at my jobs & relationship. Sampai akhirnya aku tau bahwa aku sudah menjadikan hal-hal yang baik menjadi berhala dalam hati aku. Aku tau ini bukan masalah faktor luar, tapi lebih dalam lagi ini adalah permasalahan hati, apa yang keluar adalah dari dalam hati. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" Matius 6:21.
Dan dulu aku berfikir bahwa kita harus sering-sering melihat ke bawah supaya kita punya rasa bersyukur ternyata itu adalah pernyataan yang salah. Tanpa disadari bersyukur dengan melihat ke bawah akan mengikis rasa empati kita. Kita cenderung mempunya rasa syukur karena merasa bahwa ada hidup yang lebih menderita dari kita. "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita. Menangislah bersama orang yang menangis" Roma 12:15.
Aku menyadari ada berhala yang dominan di dalam diriku: pasangan & kesuksesan. Dan aku bersyukur pada saat ini Tuhan nggak langsung membiarkan apa yang menjadi keinginan hatiku untuk terpenuhi. Aku merasa aku masih perlu bergumul sama Tuhan & utuh di dalam Dia. Menurutku waktu menunggu ini Tuhan tetapkan supaya aku nggak jatuh kedosa lebih dalam untuk terikat sama seseorang yang lain selain Dia.
Dia yang kuat menjadi lemah
Dia yang mulia menjadi hina
Dia yang kaya menjadi miskin
Supaya kita yang hina, lemah, & miskin menjadi kaya di dalam Dia.
Kalau aku merenungkan lagi Tuhan lah berkat terbesar. Aku mencari kenyamanan di luar Dia, tahun-tahun ini adalah tahun-tahun aku bergumul dengan segala pikiran & obsesi pribadi aku. Aku merasa jauh sama Tuhan segala iri hati, mencari kenyaman di luar Dia, dan terkadang marah sama Tuhan jika sesuatu nggak sesuai dengan harapanku, rasanya bener-bener berdosa banget sama Tuhan.