Mencintai Indah Namun Menyakitkan
"Duri-duri mawar mengingatkan kita bahwa cinta bisa menyakitkan, tetapi keindahannya sepadan".
Namun menurutku cinta bukan hanya punya kemungkinan untuk menyakitkan, tapi cinta sejati "pasti" akan sepaket dengan kesakitan. Karena dimana ada cinta disitu juga ada pengorbanan & kerelaan untuk kehilangan, karena sesuatu apapun yang kita cintai pasti akan meninggalkan pada waktunya.
Kisah cintaku saat ini belum terlihat ujungnya seperti apa, namun sepertinya aku udah mulai sadar apa yang Tuhan minta dari aku.
Keterbatasan pertemuan, & komunikasi sering menjadi kendala aku dalam penututan perhatian dari dirinya. Seolah cinta dari Tuhan nggak cukup dan tangki cinta aku perlu diisi oleh manusia. Nggak sering kami sering konflik dan konflik tersebut pun bisa berlarut berhari-hari tanpa menjalin komunikasi. Sehingga jarang untuk aku bisa mengeluarkan segala perasaan dan unek-unekku. Pada saat proses itu terjadi apa yang ada dibenak aku ingin rasanya bisa memaki, marah, nggak puas, protes sama Tuhan untuk setiap proses yang aku jalani.
Iri sama temen-temen yang udah mendapatkan pasangan yang settle & kekasih yang mengasihi mereka yang selalu membuat aku terbesit untuk selalu ingin mengganti pasangan. Aku ingat kata-kata Pdt. Michael Chrisdion bahwa penawar berhala di dalam hati adalah bukan menggantinya dengan berhala yang lain, tapi mengganti dengan yang ultimate yaitu diri Tuhan sendiri. Namun pada nyatanya berkali aku mencoba aplikasi dating hanya untuk mengganti pasanganku saat ini. Namun berkali itu juga aku nggak pernah merasakan damai dan "tangki" itu terasa penuh.
Pada sampai akhirnya di instagram aku melihat post bagaiman keindahan cinta itu juga datang sepaket dengan kesakitan dibelakangnya. Ketika pasangannya harus stroke dan menjadi orang yang berbeda sang istri harus mengasihi suami nya dengan versi yang terbaru yang pada akhirnya sang suami meninggal dan seorang yang dicintainya harus ia relakan untuk pergi.
Ketika membaca post inipun aku merenung, bahwa it's okay untuk berani merayakan cinta namun secara bersamaan kita juga takut akan kehilangan ketika kita memutuskan mencintai cukup dalam.
Karena akhirnya aku bisa membuka ketakutan ku selama ini sama pasanganku ketika aku tidak bisa secara bebas merayakan cinta yang ada di dalam hatiku buat dia karena ketakutan ku akan kehilang dia & dikecewakan dia karena itu akan meninggalkan luka yang cukup dalam buat aku, dan tidak seimbangnya cinta yang diberikan kepada ku. Aku nggak benar-benar bisa membiarkan cinta yang aku rasa merubah diriku untuk rendah hati mengasihi dia tulus tanpa mengharapkan seimbang. Karena aku tau kesetiaan yang aku kasih berakar pada kekuatan ku sendiri.
Namun diakhir aku tau kemampuan itu bukan karena melihat dia sebagai kekasihku namun lebih kepada bagaiman kasih Tuhan kepadaku itu yang aku bagikan ke dia dengan bebas. Sehingga pada hal yang bersamaan aku mampu merayakan namun disamping sisi karena itu juga dari Tuhan biarlah Tuhan sendiri yang menguatkan ketika pada suatu wkatu cinta itu pergi dan meninggalkan luka. Bukankah Tuhan juga seperti itu ? Dia mencintai manusia hingga rela merendahkan diriNya dan mengalami keterpisahan yang hebat bersama Bapa yang paling Dia kasihi hanya untuk bisa bersama manusia berdosa yang nggak mungkin bisa memberikan kasih seimbang kepada Dia ? biarlah Kasih Bapa kepada kita menjadi fondasi utama kita dalam memilih untuk mencintai setiap hari.
