Friday, September 14, 2018

Tuhan yang sediakan



Dari dulu, aku orang yang sangat ambisius dan punya target dalam setiap hal, terlebih untuk masalah pekerjaan & mimpi masa depan. Pada saat jaman kuliah aku selalu pasang target untuk lulus 3.5 tahun, dan nggak mau sampai 4 tahun. Kalender penuh dengan corat-coretan jadwal untuk deadline revisi & ketemu dosen, nggak hanya sampai situ akupun bermimpi untuk punya usaha sampingan di samping kuliah. Yep dan Tuhan mengabulkan setiap harapan & kerja keras aku. Aku lulus tepat 3.5 tahun terlebih Tuhan ijinin aku mengecap punya usaha sampingan dari dagang lulur sampai minuman pinggir jalan, ya walau nggak long lasting karena ada beberapa hal bermasalah terkait tempat.

Nggak sampai situ, targetku sebelum pakai topi toga aku sudah harus dapat pekerjaan kantoran, pokoknya maunya wanita karir di dalam kantor yang pakai jas rapih kalau bisa sekretaris! Jadi, sambilan skripsi aku juga rajin apply CV sana sini lewat jobstreet untuk dapat kerja sebelum lulus kuliah! Yep lagi-lagi kebaikan Tuhan megizinkan aku buat punya pekerjaan sebagai sekretaris di salah satu perusahaan minyak di Jakarta satu bulan sebelum aku lulus.

Cuma that's totally embarrassing, ketika aku sudah dapat pekerjaan jadi sekretaris, dan baru 3 hari kerja aku keluar. Nggak tau kenapa perasaan rasanya pengennya keluar, karena mungkin ada kagetnya juga ya baru pertama kali kerja tiap hari harus ikut meeting sama direksi dan aku yang jarang menyerah untuk hal tantangan seperti itupun feeling aku selalu berkata kalau aku harus keluar, i cannot survive any longer. You know, bahkan HRD aku bingung kenapa aku galau banget padahal belum sempat kerja, ibarat kata 3 hari baru pengenalan 😂😂.

Disini sempet galau banget karena mamaku sudah bangga banget anaknya bisa dapat kerja sebelum lulus di perusahaan dan posisi yang bergengsi. Selain itu kantor dan rumahku hanya butuh 20 menit jadinya nggak capek dan NGGAK MACET 😂!!

Oke karena papaku tau aku sempet stress banget mules-mules karena stress kerjaan, papaku nyaranin aku buat resign. Nah inipun penuh drama banget. Papa aku yang aku pikir otoriter dan memaksa aku untuk kerja kerja kerja aku kaget banget ternyata papaku satu-satunya orang yang dukung aku buat resign karena dia ngeliat anaknya stress banget 😂. Karena hal itu juga aku yang suka nggak respect sama papaku, aku jadi belajar untuk lebih menghormati beliau, karena ternyata papaku nggak seotoriter yang aku kira, karena alasan satu-satunya aku nggak keluar aku pikir aku bakal buat orang tua ku marah. Dan dengan senang hati aku ngajuin resign ke bos aku.

Dannnnnnnnnnnn, oke semangat aku nggak sampai disitu, walaupun jujur aja aku nggak ada pandangan mau kerja dimana lagi karena dari segi perusahaan dan lokasi perusahaan pertama aku itu udah yang paling tepat buat aku. Beberapa kali ikut test dan beberapa kali juga aku gagal. Nggak sampai disitu ada juga yang dalam beberapa test aku sempet stress & nangis gara-gara ada yang HRD nya galak. Ada yang perusahaan jauh di Jakarta yang bener-bener ngerasain di kota besar sendirian. Semuanya bener-bener nggak ada pandangan dan sempet menyalahkan diri sendiri, kalau-kalau aku udah salah jalan dan nggak ada kesempatan lagi buat aku? how pathetic and pessimist I am? 😂

Masa wisudapun sudah lewat dan udah satu bulan aku nganggur. Orang tua aku selalu menghibur aku bilang "nanti juga ada kalau udah waktunya", "belum juga 6 bulan lulus tenang aja lin" dll.

Dan you know what makes me so surprised? so, sehari sebelum aku resign dari perusahaan sebelumnya, aku iseng-iseng onlie IG terus while my boss was in meeting. Disini so funny, so, aku punya temen SMA, sebut saja F, dia cowok dan yang mana kita beda kelas dari kelas 10 SMA dan nggak pernah ngomong satu sama lain selama 3 tahun kita sekolah. Setelah itu dia follow aku di IG, biasanya untuk orang-orang yang nggak deket sama aku, aku pasti males buat follow back. Tapi nggak untuk case ini, entah kenapa aku follow back dia jadinya aku bisa lihat feednya dia. Dan pas banget pada hari itu dia post foto kantornya yang mana lokasi perusahaannya sama kaya lokasi perusahaanku. Nggak pake waktu lama SKSD lah tanya-tanya masalah kerjaan dia dimana, perusahaan apa, kantor dimana (imagine that, we never talked each other before, but it started for the first time, a day before I resigned 😂). Karena kita merasa di lokasi yang sama dia ngajakin aku buat ketemu setelah kerja, jadilah aku cerita semua masalah sama dia dan iseng-iseng bilang kalau kalau ada lowongan bisa dong infoin, itu pertama kalinya aku ngomong langsung sama dia. Walaupun pada saat itu dia bilang wah nggak ada kayaknya. dan aku pun nggak menganggap itu hal yang serius.

And you know what? Setelah masa-masa berserah ditolak sana sini dan beberapa nggak srek sama perushaan, tiba-tiba temanku si F ini nawarin aku pekerjaan. Awalnya aku nggak tertarik karena posisi ku CRO, dan sempat aku pending 1 / 2 minggu dan aku konfirmasi iya oke, daripada aku nganggur juga.

Ternyata pas aku wawancara nggak disangka aku nggak punya saingan satupun, dan perusahaan itu memang nunggu orang dari orang dalem si F ini hha. AKu juga sempet mikir kenapa juga nggak pake jobstreet? 😂

Dan saat ini aku udah berjalan 1.5 tahun kerja disini. Betah terlebih lagi jobdesknya nggak monoton, ada yang ketemu orang, ada yang administrasi, dan ada masalah-masalah baru. Selain itu rekan dan atasan juga baik-baik dan yang terpenting deket banget sama rumah.

So guys,  lagi-lagi how good our God is. Bahkan kalau aku liat lagi kebelakang semuanya sudah terkoneksi dan yapp bagaimana pengalaman kerjaan ku itu bisa dikatakan nggak ada yang kebetulan. Dan aku percaya semua ini semata-mata angurah.

Dari perusahaan pertama ku disini yang lucu, jadi aku sempet bingung kenapa divisi lain seperti R&D dsb pakai sistem gugur, dan cuma aku doang yang lamar sekretaris dipanggil sendirian dan nggak ada yang lain. Walaupun pada saat itu aku minta 2 minggu setelah ditelepon baru bersedia wawancara.dan pergi ke Jakarta karena pada saat ditelepon untuk wawancara aku lagi Jogja ngurusin berkas yusidium. Selain itu perusahaan ku selanjutnya pun juga begitu, aku nggak ada saingan seolah-olah posisi itu disiapkan buat aku dan cuma buat aku aja dan cuma nungguin aku.

Dan kalian tau, aku bukan orang yang cukup pintar teori/ hafalan apalagi ikut test psikologi dan semacamnya. Dari 2 perusahaan itu aku nggak dituntut untuk bisa lolos test psikologi karena dari 2 perusahaan itu kandidat untuk posisi yang lagi aku apply cuma aku aja yang dipanggil 😂. Dan walaupun begitu Tuhan bisa sediain buat aku dan sesuai dengan kapasitas aku. Karena aku paling nggak bisa pergi jauh/ macet pasti sering sakit. Dan yang bikin kaget 2 perusahaan ini di lokasi yang sama.

Pekerjaan bisa melenceng dari target ku, tapi yang pasti aku tau Tuhan selalu sediain pekerjaan untuk anak-anakNya sesuai kapasitas anak-anakNya dengan jalan yang so unpredictable.

Yang awalnya aku pikir nggak ada kesempatan kedua buat aku untuk dapat pekerjaan yang "semulus sebelumnya", no God has a thousand ways to make it through.

Percayalah segala usaha & kerja keras kita diperhitungkan Tuhan & kalau memang "hal" itu milikmu entah itu posisi, pekerjaan, rejeki, jodoh, pasti nggak akan ada yang bisa mengambilnya jika Tuhan sudah sediakan.

And my thought turned to His words

Wahyu 3: 18
Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu.

credits 

No comments:

Post a Comment