Berkat datang begitu aja?
Mazmur 127:2 TB
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.
Amsal 10:22.
Berkat Tuhan lah yang menjadikan kaya,susah payah tidak akan menambahinya.
Sempat pernah berdiskusi sama seseorang mengenai ayat ini, terlebih pada firman Tuhan yang aku bold. And then he said, "kalau gitu nggak perlu kerja dong?". Memang secara literal firman Tuhan tersebut mengatakan kalau Tuhan mampu memberikan berkatNya dengan "cuma-cuma" bahkan tanpa kita bekerja. Kalau kita baca Perjanjian Lama, apa yang Tuhan lakuin buat bangsa Israel bikin mind blown banget ya. Dari Abraham yang menurut aku nggak bekerja benar-benar keras tapi diberkati banyak ternak, istri ataupun raja Salomo yang nggak minta apa-apa tapi Tuhan secara cuma-cuma menjadikan raja Salomo menjadi raja terkaya, hingga akhirnya Salomo jatuh ke dalam dosa dan mengingkari Tuhan di dalam kekayaannya.
Tapi kalau aku merenungkan lagi sebenarnya ayat ini mau menekankan bahwa ketika kita memiliki jabatan di perusahaan, usaha kita yang maju, dagangan kita yang laris, semata-mata itu bukan karena usaha kita. Tapi Tuhan yang memberikan kelarisan, pelanggan, ataupun tanggung jawab di perusahaan kepada kita. Pelangganpun semua digerakan oleh Tuhan, kalau Tuhan nggak menggerakan mungkin dagangan kita jadi sepi, begitupun juga jabatan di kantor, apapun jabatanmu itu adalah Tuhan yang memberikan. Kita bisa diangkat menjadi supervisor ataupu staff ataupun manager itu semata-mata tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita.
Tapi apa itu artinya kita nggak harus berusaha? kalau aku harus mengilustrasikan, Tuhan itu ibarat Bapa/ orang tua. Anggap saja ada seorang Bapa yang sangat kaya raya, mempunyai dua orang anak yang sama-sama dikasihi; yang bungsu sangat tekun sama pekerjaan-pekerjaan kecil, gemar menabung, dermawan, dan mau belajar apapun. Dia selalu ikut Bapanya ke perusahaannya untuk mempelajari dari bawah. Dan yang sulung karena terbiasa hidup enak dari kekayaan Bapanya, dia malas untuk belajar, dan dia lebih memilih berkumpul bersama teman-temannya ketimbang belajar di perusahaan Bapanya. Suatu ketika Bapanya akan resign dari jabatan direkturnya, apakah Bapa itu akan memberikan jabatannya kelak ke anak bungsunya yang senang belajar atau ke anak sulungnya? otomatis jabatan tersebut akan diberikan ke anak bungsunya yang Bapanya lihat dia sudah "siap" mengemban tanggung jawab besar. Karena Bapa itu nggak bijak jika memberikan ke anak sulungnya yang malah membuat "perusahaan" dan anaknya justru jatuh.
Begitupun juga dengan kita. Tuhan bisa saja memberikan jabatan, pekerjaan, kelancaran usaha, kalau Dia tau kita sudah "siap". Jangan sampai itu malah menghancurkan anaknya ketika Dia memberikan sesuatu yang di luar batas kemampuan anaknya.
Jadi menurut aku, berkat Tuhan itu tergantung sama kapasitas kita masing-masing. Tuhan baik, mungkin berkat berbentuk berbeda-beda karena kita semua unik & nggak sama. Oleh karena itu ketika kita ngeluh kok cuma segini berkat Tuhan buat kita, kita harus melihat diri kita dulu, apakah kita sudah memberikan yang terbaik yang ada dalam diri kita?
Karena Tuhan bahwasannya selalu siap menurunkan hujan kapanpun Dia mau, cuma apakah ladang sudah benar-benar kita persiapkan?
Tapi kalau aku merenungkan lagi sebenarnya ayat ini mau menekankan bahwa ketika kita memiliki jabatan di perusahaan, usaha kita yang maju, dagangan kita yang laris, semata-mata itu bukan karena usaha kita. Tapi Tuhan yang memberikan kelarisan, pelanggan, ataupun tanggung jawab di perusahaan kepada kita. Pelangganpun semua digerakan oleh Tuhan, kalau Tuhan nggak menggerakan mungkin dagangan kita jadi sepi, begitupun juga jabatan di kantor, apapun jabatanmu itu adalah Tuhan yang memberikan. Kita bisa diangkat menjadi supervisor ataupu staff ataupun manager itu semata-mata tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita.
Tapi apa itu artinya kita nggak harus berusaha? kalau aku harus mengilustrasikan, Tuhan itu ibarat Bapa/ orang tua. Anggap saja ada seorang Bapa yang sangat kaya raya, mempunyai dua orang anak yang sama-sama dikasihi; yang bungsu sangat tekun sama pekerjaan-pekerjaan kecil, gemar menabung, dermawan, dan mau belajar apapun. Dia selalu ikut Bapanya ke perusahaannya untuk mempelajari dari bawah. Dan yang sulung karena terbiasa hidup enak dari kekayaan Bapanya, dia malas untuk belajar, dan dia lebih memilih berkumpul bersama teman-temannya ketimbang belajar di perusahaan Bapanya. Suatu ketika Bapanya akan resign dari jabatan direkturnya, apakah Bapa itu akan memberikan jabatannya kelak ke anak bungsunya yang senang belajar atau ke anak sulungnya? otomatis jabatan tersebut akan diberikan ke anak bungsunya yang Bapanya lihat dia sudah "siap" mengemban tanggung jawab besar. Karena Bapa itu nggak bijak jika memberikan ke anak sulungnya yang malah membuat "perusahaan" dan anaknya justru jatuh.
Begitupun juga dengan kita. Tuhan bisa saja memberikan jabatan, pekerjaan, kelancaran usaha, kalau Dia tau kita sudah "siap". Jangan sampai itu malah menghancurkan anaknya ketika Dia memberikan sesuatu yang di luar batas kemampuan anaknya.
Jadi menurut aku, berkat Tuhan itu tergantung sama kapasitas kita masing-masing. Tuhan baik, mungkin berkat berbentuk berbeda-beda karena kita semua unik & nggak sama. Oleh karena itu ketika kita ngeluh kok cuma segini berkat Tuhan buat kita, kita harus melihat diri kita dulu, apakah kita sudah memberikan yang terbaik yang ada dalam diri kita?
Karena Tuhan bahwasannya selalu siap menurunkan hujan kapanpun Dia mau, cuma apakah ladang sudah benar-benar kita persiapkan?

No comments:
Post a Comment