Thursday, November 22, 2018

Arti Sakral Pernikahan



Marriage is sacred, but nowadays marriage seems to lose its sacred meaning...

Minggu ini lagi booming banget dengan perceraian salah satu rumah tangga artis papan atas. Yap sebenarnya pasti sudah biasa banget ya denger artis bercerai itu, tapi yang buat heboh adalah, rumah tangga artis ini terkenal paling adem, apalagi baru punya anak yang masih kecil & lucu banget, yap perceraian Gading & Gisel.
Gue sendiri sebagai kristiani sungguh menyayangkan perceraian keluarga mereka.

Jaman sekarang pernikahan seakan kehilangan kesakralannya. Padahal kalau kita inget di altar kita bukan berjanji untuk manusia, kita berjanji dihadapan Tuhan sendiri. Jadi ketika kita  berkomitmen di depan altar & pendeta sebagai saksi sah Kristus, sebenernya secara nggak langsung kita berjanji di hadapan Tuhan..

Gue pribadi belum menikah, tapi gue juga belajar untuk consider ketika gue berpacaran, gue berpacaran atas landasan Tuhan--- dimana gue menjadikan pasangan gue sebagai sarana untuk lebih seperti Kristus.

TAPI

yang perlu kita inget, seperti Kristus itu justru yang susah-susah 😂😂 dari situ, gue yang selalu  dominan harus belajar menghormati pasangan gue yang mana gue paling nggak bisa tunduk sama orang apalagi cowok.

Karena untuk menjadi seperti Kristus, kita perlu ditempatkan di situasi dimana kita bisa memilih untuk tidak menjadi seperti Dia.

Faktor perceraian pasti banyak entah masalah ekonomi, keluarga, ataupun ketidakcocokan. Menurut gue pribadi nggak ada yang namanya 2 pribadi berbeda bisa cocok. Kita sama orang tua pun belum tentu cocok, apalagi sama pasangan yang dibesarkan dengan background ataupun petuah-petuah berbeda, karena hakikatnya kecocokan itu PROSES belajar----kecuali kalau memang sudah masalah prinsip yang melenceng dari Alkitab, say big no for it.

Gue sendiri pernah punya hubungan sama orang yang bisa dibilang "bad boy", dia minum, ngerokok, emosian, dan melakukan hal-hal lain yang melenceng dari Alkitab. Gue sendiri sempet stuck karena udah merasa nyaman & nyambung, walau di samping sisi gue sadar ini nggak mungkin sehat. Dan terakhir gue benar-benar bisa melepaskan ketika dia bilang ke gue bahwa gue tinggal di dunia, jadi jangan terlalu bertuhan banget. Disitu gue udah mikir kalau ini udah menyangkut masalah prinsip dan gue nggak bisa menyatu untuk hal itu, akhirnya gue mundur. Untuk kalian yang masih tahap pacaran dan mau ke jenjang pernikahan, pertimbangkanlah untuk pertama kali masalah prinsip itu, jika prinsip nggak bisa menyatu for sure your marriage will be like a battle field. Inget terang nggak akan bisa menyatu dengan gelap.

Dan ketika kita jenuh ataupun merasa sudah nggak sanggup dan ingin bercerai, cobalah berpkir ketika kita melakukan itu, yang kita sakiti bukan hanya pasangan, anak/ keluarga tapi juga Tuhan sendiri.

Gue menemukan beberapa keluarga dekat gue yang suaminya otoriter, selingkuh, tapi wanita ini tetap bertahan, semata-mata karena dia tau itu salib yang harus dia pikul. Kalau dia memutuskan untuk bercerai itu tandanya dia nggak ikut menanggung salib bersama Tuhan.

Dan ini yang gue lagi proses untuk terus belajar sebelum menikah:

1. PERNIKAHAN BERARTI learning to be SELFLESS. 

Hal ini adalah hal tersulit yang gue lakuin. Gue dulu kalau pacaran selalu harus tentang gue, contoh kecil aja ketika dulu gue sempat LDR, cowok gue harus stand by nemenin gue via phone sampai malem sebelum gue tidur karena gue kadang agak takut untuk tidur sendiri. Pernah seminggu gue hampir putus gara-gara dia selalu ninggalin gue tidur duluan gara-gara kecapean. Pagi-paginya langsung deh gue marah-marah minta putus 😂😂. Tapi selang waktu gue mulai mengurangi hal itu. Dan ketika gue butuh temen tapi pasangan gue lagi berhalangan/ capek gue sekarang udah mulai melonggarkan.

2. PERNIKAHAN BERARTI SACRIFICE. 

Untuk mempertahankan sesuatu harus ada pengorbanan. Kalian tau mungkin banyak pernikahan yang hancur karena ekonomi atau saat suami nggak bisa memenuhi finasial keluarga. Dulu gue begitu mengharapan laki-laki yang harus sedian ini itu bahkan jajan gue. Ketika cowok gue nggak bisa memenuhi ekspektasi gue, gue pasti langsung ngambek dan marah. Tapi gue sadar ketika Tuhan menegur gue bahwa gue harus berpengharapan sama Tuhan. Puji Tuhan cowok gue sangat bertuhan dan bekerja keras itu yang bisa membuat gue lama kelamaan yakin kalau gue harus bersandar sama Tuhan bukan cowok gue.   Dan gue selalu menanamkan dalam mind-set gue kalau gue nggak bisa mengharapkan suami gue kelak adalah sumber bahagia gue, tapi sumber bahagia gue adalah Tuhan sendiri.

Pernikah itu pengorbanan. Semenjak itu gue harus berfikir berkorban juga dari usaha ataupun berkorban untuk "menanggakan ego" gue sendiri.

3. PERNIKAHAN ITU IBADAH. 

Banyak yang memutuskan nikah muda karena itu adalah Ibadah. Tapi apa kita bener-bener paham IBADAH yang dimaksud ini apa? IBADAH itu nggak mudah, we have to empty our-self, our vessel in order God can take control through our marriage. Kalau kalian punya motivasi menikah karena ibadah, kita harus siap-siap untuk mengosokan diri kita, supaya Tuhan yang mengambil ahli dari pernikah ini. Masalah apapun itu akan lebih mudah kalau landasan kita Tuhan.

*Ketika kita nggak yakin sama suami kita & ekonomi lagi terpuruk, disitu kita dihadapkan pilihan untuk bercerai karena kita deserve someone better atau tetap bertahan karena kita tahu Tuhan sedang mengajarkan kita untuk totally surrender dan melihat Tuhan bekerja  melalui masalah hidup kita? Dan agar kita tidak bergantung pada suami?

*Ketika cinta kita perlahan mulai luntur, ada someone more lovingly di depan mata, kita dihadapkan pilihan untuk memilih "cinta (sesaat)" kita atau terus bertahan & meminta pertolongan Tuhan lagi agar cinta kita terus bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan?
 
*Ketika kita selalu bertengkar karena ketidakcocokan / argumen kita, apakah kita belajar untuk more to be selfless supaya tetap terus bertahan akan janji kita yang kita ucapkan ke Tuhan?

Pikirkan pernikahan itu nggak semata-mata ngucap janji di Altar, resepsi, honeymoon then it finish. No, kita berporses belajar sampai akhir hidup. Walaupun negara mengijinkan kita untuk bercerai, tapi cobalah bertahan & bawa Tuhan lagi ke dalam hubungan kita. Karena Tuhan bisa memulihkan semua yang retak, KALAU kita mengizinkan Tuhan masuk ke dalam pernikaha kita. Mungkin itu yang dinamakan PERNIKAHAN adalah IBADAH.

Oh iya tips lagi. Jangan sering-sering liat pernikahan di Instagram kalau bisa bikin insecure. Create our own, and let our mariage be a blessing for others and be His-story. 

Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10c) 

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)

No comments:

Post a Comment