Keselamatan yang cuma-cuma
Beberapa pekan ini aku sempat berdiskusi perihal keselamatan sama beberapa orang : "Jika Kasih Karunia orang yang memampukan manusia untuk berada di hadirat Tuhan, apakah artinya perbuatan baik tidak penting? Dan kalaupun cuma percaya sama Yesus aja bisa masuk surga, yaudah kalau gitu kita boleh membunuh dll dong karena kan bukan perbuatan kita yang membawa kita ke surga?" Singkatnya "Apakah perbuatan baik kita berkontribusi pada keselamatan kita?"
Pertama-tama kita harus tau dulu konsep perihal Kekudusan, dan bagaimana Alkitab menekankan bahwa pentingnya untuk hidup Kudus:
TUHAN itu KUDUS; HADIRAT TUHAN; tempat tinggal Tuhan, tanah, pepohonan, atau I can say segala yang ada di dalam Firdaus adalah KUDUS.
....sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!
(Mazmur 99:9)
(Mazmur 99:9)
"Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"
(Yesaya 6 : 3)
Siang malam makhluk-makhluk itu tidak berhenti-hentinya menyanyi, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah Mahakuasa; yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang.
(Wahyu 4:8)
dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.
(Ibrani 12:14)
Siang malam makhluk-makhluk itu tidak berhenti-hentinya menyanyi, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah Mahakuasa; yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang.
(Wahyu 4:8)
dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.
(Ibrani 12:14)
Sehingga pada awal sebelum ada dosa/maut, Adam & Hawa punya akses bebas untuk bertemu Tuhan, berbicara langsung sama Tuhan, sebab belum ada dosa, dan mereka masih Kudus. Namun ketika Adam & Hawa berdosa, mereka tidak punya akses lagi untuk ke Hadirat Tuhan.
Perlu diketahui BUKAN KARENA Tuhan menjauhkan diri dari manusia, tapi karena segala yang cacat atau bernoda nggak bisa tinggal ke dalam Kekudusan Tuhan.
Lalu apa hubungannya percaya sama Yesus maka kita bisa layak tinggal dalam hadirat Tuhan?
Yesus adalah bentuk Allah yang Kudus namun bisa bersatu dengan pendosa. Kekudusan Yesus membuktikan bahwa Ia membenci dosa (sebab Yesus tidak berbuat berdosa selama Dia hidup di dunia) namun Dia mengasihi pendosa & bergaul dengan pendosa (sebab Allah bereinkarnasi menjadi daging ke dalam diri Yesus & mengalami maut).
Kalau kita flashback ke Perjanjian Lama, Tuhan memberikan banyak Musa hukum terkait dengan penebusan dosa dengan memberikan pengorbanan Anak Domba yang TIDAK BERCACAT sebagai pinalti atas setiap dosa yang diperbuat umatNya. Berhubungan dengan itu Yesus adalah Persembahan pengapusan dosa terakhir bagi manusia; Yesus adalah Anak Domba yang satu-satunya tidak bercacat; Tuhan Yesus tidak berbuat dosa selama 33 tahun hidup ketika dia menjadi manusia 100%. Sehingga darahNya yang kudus layak untuk menanggung segala kecacatan kita, kita yang nggak Kudus ini bisa dimurnikan sendiri oleh pengorbananNya untuk masuk ke hadirat Tuhan.
Kalau kita ingat dahulu kala, bangsa Israel diselamatkan cuma-cuma pada saat Allah melawat Mesir, karena bangsa Israel mengoleskan darah anak domba sulung yang nggak bercacat di depan pintu rumahnya. Begitupun juga Yesus, maut nggak bisa mengambil anak-anakNya yang telah dimateraikan dengan penebusan darahNya yang kudus.
And back again, gimana kalau case nya kita sudah percaya Yesus, dibaptis, sering ikut kegiatan gereja, rajin berdoa, tapi perbuatan kita nggak mencerminkan Yesus? Masuk surga atau neraka? Padahal kita kan sudah diikat dengan pembaptisan which means kita percaya Yesus?
Aku sebagai Kristiani selalu berpengharap bahwa goal ku bukan masuk surga, tapi aku ingin bertemu Yesus langsung and He said "well done, my daughter" karena aku percaya penebusanku sudah 100% ditanggung Yesus bahkan untuk dosa yang akan datang.
Sebenarnya perbuatan baik bukan ukuran apakah itu yang akan membawa kita ke surga atau nggak, tapi itu ukuran CINTA & BUKTI PERCAYA kita sama YESUS atau nggak.
Let's say, sepasang wanita & pria ada dalam suatu ikatan pernikahan. Mereka sama-sama mengikat janji dalam sakramen pernikahan di depan Altar, secara permukaan kita bisa lihat mereka SALING MENCINTAI, SALING PERCAYA karena sudah dalam ikatan pernikahan suci. Tapi seiring perjalanan waktu, sang suami melakukan kekerasan, nggak pernah menghargai istri, dan selingkuh. Secara umum kita bisa bilang MEREKA SUAMI ISTRI SAH secara status, tapi apakah janji pernikahan tersebut sudah menggambarkan pasti kalau sang suami dengan TULUS MENCITAI istrinya? Cinta dibuktikan dengan perbuatan nyata.
Begitupun dengan iman kita, ketika kita memutuskan untuk percaya & mengikuti Yesus, kita diikat dalam sebuah pembaptisan, tapi KESUNGGUHAN CINTA & PERCAYA kita kepada Yesus dibuktikan dari perbuatan kita. Namun perbuatan kita bukanlah yang membawa kita ke Hadirat Tuhan, perbuatan kita BUKTI dari KETULUSAN CINTA kita & PERCAYA kita kepada Yesus.
Karena jika tanpa Yesus, dan hanya perbuatan baik yang berkontribusi untuk masuk surga, syarat manusia untuk dapat masuk ke Hadirat Tuhan harus 100% murni tanpa bercacat sama seperti Yesus hidup. Manusia nggak akan ada yang sanggup untuk tidak berbuat dosa sama sekali selama hidup.
(Efesus 2:8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
(Roma 3:24) dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Jadi prinsip orang Kristen seharusnya kita berbuat baik bukan untuk masuk surga, tapi untuk menyenangkan hati Tuhan & biar semata-mata nama Tuhan yang dimuliakan sebab kita sudah ditebus oleh darahNya yang mahal.😁
Namun aku percaya Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat menghargai perbuatan sekecil apapun,
"segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"
(Mat 25:40)
(Mat 25:40)
dan aku percaya segala perbuatan baik & bahkan pengorbanan kecil kita nggak akan pernah sia-sia bagi Tuhan, bukan karena reward untuk nggak masuk neraka, tapi aku percaya Tuhan pasti akan memberikan reward yang baik setiap apa yang kita lakukan untuk Dia di dunia pada saat kita bertemu Tuhan nanti.
Amin.
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu
(Matius 25:21)
Amin.

No comments:
Post a Comment